GERAKAN LITERASI
SEKOLAH
Darmanto
MI Islamiyah
Muhammadiyah Walikukun
Secara
tradisional, literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Orang
yang dapat dikatakan literat dalam hal ini ialah mereka yang mampu membaca dan
menulis atau bebas buta huruf (Yunus Abidin,
2017:1). Namun saat ini, literasi tidak lagi bermakna sebagai kegiatan
pemberantasan buta huruf, tetapi merupakan sebuah praktik sosial yang
melibatkan kegiatan bicara, menulis,
membaca, menyimak dalam proses memproduksi ide, dan mengkonstruksi makna
yang yang terjadi dalam konteks budaya yang spesifik. Menjadi literat bermakna
bahwa seseorang dapat menggunakan potensinya untuk berpartisipasi secara
optimal dalam komunitas atau pun lingkungan sosialnya (Dewayani, 2017:12).
Secara
bahasa, literasi memiliki makna melek huruf, sedangkan secara istilah literasi
adalah semua kemampuan yang diperlukan seseorang untuk mengambil bagian dalam
semua kegiatan atau aktifitas yang berkaitan dengan teks dan wacana (Rukmana, 2019:32). Literasi mencakup berbagai
jenis keterampilan seperti membaca, menulis, memproses informasi, ide, dan
pendapat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Selain itu, literasi
juga melibatkan lebih banyak tindakan dan terhubung dengan pembentukan sikap,
nilai, perasaan, hubungan, struktur kekuasaan, dan aspek konstektual. Dan
literasi adalah dasar dalam pembentukan kepribadian multi-berpendidikan (Vivi Indriyani, 2019:111). Menurut Goverment
of Alberta dalam Erna Labusari (2018:26) menyampaikan literasi bukan hanya
sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis, tetapi lebih dari pada itu.
Literasi membuat seseorang untuk berpikir kritis, berkomunikasi lebih baik,
terbuka terhadap perubahan dan dapat memecahkan masalah pada berbagai konteks.
Dengan kata lain, literasi dapat pula meningkatkan karakter pada seseorang (Labusari, 2018:26).
Menurut
Nurmaina Fadlila, guru sasaran gerakan literasi sekolah (GLS) sekolah
Muhammadiyah Jawa Timur, literasi berasal dari Bahasa Latin “literatus”,
yang artinya seseorang yang belajar. Sedangkan literasi sekolah merupakan
kegiatan siswa untuk belajar baik membaca, menulis, menyimak, maupun berbicara.
Berdasarkan
uraian-uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa literasi merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui tentang sebuah makna, sehingga
dapat menambah pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah. Dan literasi mampu
menumbuhkan atau membentuk karakter seseorang menjadi karakter yang lebih baik.
Literasi
tidak mencakup pada literasi membaca dan menulis saja, tetapi juga terdapat
literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, digital, literasi budaya
dan lingkungan dan jenis-jenis literasi lainnya
(Vivi Indriyani, 2019:114). Dan literasi dapat mencakup seluruh bidang
ilmu karena literasi dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan
di era modern.
Berdasarkan
hasil studi dari The International Association for the Evaluation of
Education Achievement menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia dalam hal
kemampuan membaca berada pada urtan ke-26 dari 27 negara yang diteliti. Dan
berdasarkan data laporan UNESCO (2003) melalui Program for International
Student Assesment (PISA) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak
Indonesia usia 15 tahun ke atas berada pada urutan ke-39 dari 41 negara yang
diteliti (Ariyati:656-657).
Berdasarkan
hal tersebut di atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dikembangkan berdasarkan sembilan agenda
prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud,
khususnya Nawacita nomor (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat
Indonesia, (6) meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar
internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama
bangsa-bangsa Asia lainnya, (8) melakukan revolusi karakter bangsa, (9)
memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir
Nawacita tersebut berkaitan erat dengan komponen literasi sebagai modal dalam
pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing,
berkarakter, serta nasionalis (Dewi Utami
Faizah, 2016:1-2).
Gerakan
Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu program yang bertujuan untuk memperkuat
gerakan penumbuhan budi pekerti, hal ini seperti yang telah dituangkan dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, bahwa Gerakan
Literasi Sekolah merupakan kegiatan untuk menumbuhkan minat baca serta
meningkatkan keterampilan membaca siswa agar pengetahuan dapat dikuasai dengan
baik. Materi baca yang berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal,
nasional, dan global mempunyai peran penting
dalam menumbuhkan karakter siswa.
Penataan lingkungan, situasi dan kondiisi
pelaksanaan GLS yang disebut dengan ekosistem literat sekolah dapat diupayakan kearah pengembangan
karakter siswa (Rahayu, 2017:1060-1061). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Gerakan
Literasi Sekolah memiliki andil besar dalam kegiatan pembentukan karakter
siswa.
Gerakan
Literasi sekolah adalah salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa kecintaan
membaca siswa dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang
imajinasi, serta menjadi salah satu desain induk dalam penumbuhan budi pekerti.
Sehingga Gerakan Literasi sekolah ini perlu melibatkan para pemangku
kepentingan secara terprogram dengan tujuan utama ialah agar siswa menjadi
insan yang berbudaya literasi (Labusari,
2018:29).
Melihat tujuan dan pentingnya program Gerakan Literasi
Sekolah (GLS), sekolah sebagai satuan pendidikan harus mampu mendukung program
tersebut, dengan cara menerapkan budaya membaca untuk menciptakan generasi yang
gemar membaca. Sekolah memiliki peran dalam mengembangkan kemampuan siswa, dan
berbagai kegiatan membaca yang yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada di
sekolah (Ernawati, 20l9:14). Namun sebenarnya, gerakan literasi ini tidak hanya
dibebankan kepada satuan pendidikan sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi
juga dibebankan kepada lembaga pendidikan nonformal. Dimana pada lembaga
pendidikan nonformal, seseorang bisa lebih leluasa dalam melakukan aktifitas
literasinya serta leluasa dalam menuangkan ide-idenya tanpa terbebani dengan aturan-aturan
yag dibuat oleh sekolah.
Pendidikan
karakter melalui literasi selayaknya memang sudah ditanamkan sejak jenjang
pendidikan dasar dan dilanjutkan pada jenjang berikutnya agar siswa dapat
meningkatkan kemampuannya dalam mengakses informasi dan pengetahuan secara luas, karena literasi mengarahkan pada
kemampuan memahami pesan yang diwujudkan dalam berbagai teks (lisan, tulis, dan
visual) (Labusari, 2018:27).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan dalam tiga
tahap, yaitu tahap pembiasaan, pengembangan dan
pembelajaran. Ketiga tahap tersebut
dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga dapat mencapai tujuan yang
diinginkan, yaitu salah satunya adalah penumbuhan karaker siswa (Rahayu,
2017:1062).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nurmaina Fadlila,
salah satu guru sasaran kegiatan gerakan literasi sekolah dari Program Majelis
Dikdasmen PWM Jawa Timur menyampaikan bahwa implementasi gerakan literasi
sekolah yang dilaksanakan di MI Islamiyah Muhammadiyah Walikukun antara lain :
1.
Membaca big book bersama-sama yang sesuai dengan materi yang akan
diajarkan. Setelah itu guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi
yang terdapat pada big book. Tujuan belajar menggunakan big book ialah untuk
memancing atau memberikan motivasi kepada siswa agar tertarik untuk belajar, serta
menumbuhkan karakter berpikir kritis dan teliti.
2.
Menyimak berita yang terdapat di media massa. Setelah itu siswa memberikan
pendapat sesuai dengan kemampuannya dan membacakannya di depan kelas. Dari
kegiatan tersebut dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dan percaya diri
dalam menyampaikan pendapat kepada orang lain.
Kegiatan literasi sekolah ini laksanakan pada 10 menit
pertama sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Sehingga diharapkan setelah
mengikuti kegiatan literasi, siswa bersemangat dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran di kelas, serta terlatih dalam memberikan pendapat atu memberikan
kesimpulan dari materi yang diajarkan.
Berdasarkan hasil diatas maka dapat diambil kesimpulan
bahwa kegiatan literasi yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan memiliki peran
yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Sehingga tidak dapat
dipungkiri pula bahwa gerakan literasi memiliki hubungan yang sangat erat
dengan penanaman karakter siswa. Dan dapat diibaratkan sebagai sebuah lingkaran
yang saling menyatu untuk memperoleh hasil yang terbaik.
Referensi
Ariyati, D.
(n.d.). Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Berbasis Literasi. Seminar
Nasional (pp. 655-662). Jember: Universitas Jember.
Dewayani, S. (2017). Menghidupkan Literasi di dalam
Kelas. Bandung: Kanisius.
Dewi Utami Faizah, d. (2016). Panduan Gerakan Literasi
Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah dasar
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Ernawati. (2019). Reading Day (One Book One Person) :
Gerakan Literasi Sekolah sebagai Perwujudan Budaya Baca di Sekolah SUkma
Bangsa Lhokseumawe. Unilib Jurnal Perpustakaan, 13-20.
Labusari, E. (2018). Membangun Karakter Siswa Sekolah Dasar
melalui Gerakan Literasi Sekolah. Seminar Nasional Pendidikan Dasar
(pp. 25-32). Cirebon: Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Rahayu, R. A. (2017). Gerakan Literasi Sekolah sebagai
Upaya Penumbuhan Karakter Siswa sekolah Dasar. Transformasi Pendidikan
Abad 21 (pp. 1060-1067). Malang: Universitas Negeri Malang.
Rukmana, S. K. (2019). Pembentukan Kecakapan Hidup (Life
Skill) melalui Program Literasi pada Pembelajaran Al-Qur'an Hadits di MTs
Darul Hikmah Prasung Buduran Sidoarjo. Surabaya: UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Vivi Indriyani, d. (2019). Literasi Baca Tulis dan Inovasi
Kurikulum Bahasa. Kembara, 108-118.
Yunus Abidin, d. (2017). Pembelajaran Literasi.
Jakarta: Bumi Aksara.


0 komentar:
Posting Komentar