<< ----- Selamat Datang ----- Blog KKG MI KEcamatan widodaREN ----- KEREN ----- K reatif ----- E dukatif ----- RE presentatif ----- N ormatif ----- >>

Halaman

Senin, 19 Oktober 2020

GERAKAN LITERASI SEKOLAH

 

GERAKAN LITERASI SEKOLAH

Darmanto

MI Islamiyah Muhammadiyah Walikukun

dharmanto37@gmail.com

 

 


Secara tradisional, literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Orang yang dapat dikatakan literat dalam hal ini ialah mereka yang mampu membaca dan menulis atau bebas buta huruf (Yunus Abidin, 2017:1). Namun saat ini, literasi tidak lagi bermakna sebagai kegiatan pemberantasan buta huruf, tetapi merupakan sebuah praktik sosial yang melibatkan kegiatan bicara, menulis,  membaca, menyimak dalam proses memproduksi ide, dan mengkonstruksi makna yang yang terjadi dalam konteks budaya yang spesifik. Menjadi literat bermakna bahwa seseorang dapat menggunakan potensinya untuk berpartisipasi secara optimal dalam komunitas atau pun lingkungan sosialnya (Dewayani, 2017:12).

Secara bahasa, literasi memiliki makna melek huruf, sedangkan secara istilah literasi adalah semua kemampuan yang diperlukan seseorang untuk mengambil bagian dalam semua kegiatan atau aktifitas yang berkaitan dengan teks dan wacana (Rukmana, 2019:32). Literasi mencakup berbagai jenis keterampilan seperti membaca, menulis, memproses informasi, ide, dan pendapat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Selain itu, literasi juga melibatkan lebih banyak tindakan dan terhubung dengan pembentukan sikap, nilai, perasaan, hubungan, struktur kekuasaan, dan aspek konstektual. Dan literasi adalah dasar dalam pembentukan kepribadian multi-berpendidikan (Vivi Indriyani, 2019:111). Menurut Goverment of Alberta dalam Erna Labusari (2018:26) menyampaikan literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis, tetapi lebih dari pada itu. Literasi membuat seseorang untuk berpikir kritis, berkomunikasi lebih baik, terbuka terhadap perubahan dan dapat memecahkan masalah pada berbagai konteks. Dengan kata lain, literasi dapat pula meningkatkan karakter pada seseorang (Labusari, 2018:26).

Menurut Nurmaina Fadlila, guru sasaran gerakan literasi sekolah (GLS) sekolah Muhammadiyah Jawa Timur, literasi berasal dari Bahasa Latin “literatus”, yang artinya seseorang yang belajar. Sedangkan literasi sekolah merupakan kegiatan siswa untuk belajar baik membaca, menulis, menyimak, maupun berbicara.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa literasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui tentang sebuah makna, sehingga dapat menambah pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah. Dan literasi mampu menumbuhkan atau membentuk karakter seseorang menjadi karakter yang lebih baik.

Literasi tidak mencakup pada literasi membaca dan menulis saja, tetapi juga terdapat literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, digital, literasi budaya dan lingkungan dan jenis-jenis literasi lainnya (Vivi Indriyani, 2019:114). Dan literasi dapat mencakup seluruh bidang ilmu karena literasi dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan di era modern.

Berdasarkan hasil studi dari The International Association for the Evaluation of Education Achievement menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia dalam hal kemampuan membaca berada pada urtan ke-26 dari 27 negara yang diteliti. Dan berdasarkan data laporan UNESCO (2003) melalui Program for International Student Assesment (PISA) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak Indonesia usia 15 tahun ke atas berada pada urutan ke-39 dari 41 negara yang diteliti (Ariyati:656-657).

Berdasarkan hal tersebut di atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia, (6) meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya, (8) melakukan revolusi karakter bangsa, (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut berkaitan erat dengan komponen literasi sebagai modal dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis (Dewi Utami Faizah, 2016:1-2).

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu program yang bertujuan untuk memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti, hal ini seperti yang telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, bahwa Gerakan Literasi Sekolah merupakan kegiatan untuk menumbuhkan minat baca serta meningkatkan keterampilan membaca siswa agar pengetahuan dapat dikuasai dengan baik. Materi baca yang berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global  mempunyai peran penting dalam  menumbuhkan karakter siswa. Penataan lingkungan, situasi dan kondiisi  pelaksanaan GLS yang disebut dengan ekosistem literat sekolah  dapat diupayakan kearah pengembangan karakter  siswa (Rahayu, 2017:1060-1061). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Gerakan Literasi Sekolah memiliki andil besar dalam kegiatan pembentukan karakter siswa.

Gerakan Literasi sekolah adalah salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa kecintaan membaca siswa dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi, serta menjadi salah satu desain induk dalam penumbuhan budi pekerti. Sehingga Gerakan Literasi sekolah ini perlu melibatkan para pemangku kepentingan secara terprogram dengan tujuan utama ialah agar siswa menjadi insan yang berbudaya literasi (Labusari, 2018:29).

Melihat tujuan dan pentingnya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), sekolah sebagai satuan pendidikan harus mampu mendukung program tersebut, dengan cara menerapkan budaya membaca untuk menciptakan generasi yang gemar membaca. Sekolah memiliki peran dalam mengembangkan kemampuan siswa, dan berbagai kegiatan membaca yang yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada di sekolah (Ernawati, 20l9:14). Namun sebenarnya, gerakan literasi ini tidak hanya dibebankan kepada satuan pendidikan sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga dibebankan kepada lembaga pendidikan nonformal. Dimana pada lembaga pendidikan nonformal, seseorang bisa lebih leluasa dalam melakukan aktifitas literasinya serta leluasa dalam menuangkan ide-idenya tanpa terbebani dengan aturan-aturan yag dibuat oleh sekolah.

Pendidikan karakter melalui literasi selayaknya memang sudah ditanamkan sejak jenjang pendidikan dasar dan dilanjutkan pada jenjang berikutnya agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengakses informasi dan pengetahuan  secara luas, karena literasi mengarahkan pada kemampuan memahami pesan yang diwujudkan dalam berbagai teks (lisan, tulis, dan visual) (Labusari, 2018:27).

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan dalam tiga tahap,  yaitu tahap  pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran.  Ketiga tahap tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu salah satunya adalah penumbuhan karaker siswa (Rahayu, 2017:1062).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Nurmaina Fadlila, salah satu guru sasaran kegiatan gerakan literasi sekolah dari Program Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur menyampaikan bahwa implementasi gerakan literasi sekolah yang dilaksanakan di MI Islamiyah Muhammadiyah Walikukun antara lain :

1.      Membaca big book bersama-sama yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Setelah itu guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi yang terdapat pada big book. Tujuan belajar menggunakan big book ialah untuk memancing atau memberikan motivasi kepada siswa agar tertarik untuk belajar, serta menumbuhkan karakter berpikir kritis dan teliti.

2.      Menyimak berita yang terdapat di media massa. Setelah itu siswa memberikan pendapat sesuai dengan kemampuannya dan membacakannya di depan kelas. Dari kegiatan tersebut dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dan percaya diri dalam menyampaikan pendapat kepada orang lain.

Kegiatan literasi sekolah ini laksanakan pada 10 menit pertama sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Sehingga diharapkan setelah mengikuti kegiatan literasi, siswa bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas, serta terlatih dalam memberikan pendapat atu memberikan kesimpulan dari materi yang diajarkan.

Berdasarkan hasil diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan literasi yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Sehingga tidak dapat dipungkiri pula bahwa gerakan literasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan penanaman karakter siswa. Dan dapat diibaratkan sebagai sebuah lingkaran yang saling menyatu untuk memperoleh hasil yang terbaik.

 

Referensi

Ariyati, D. (n.d.). Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Berbasis Literasi. Seminar Nasional (pp. 655-662). Jember: Universitas Jember.

Dewayani, S. (2017). Menghidupkan Literasi di dalam Kelas. Bandung: Kanisius.

Dewi Utami Faizah, d. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ernawati. (2019). Reading Day (One Book One Person) : Gerakan Literasi Sekolah sebagai Perwujudan Budaya Baca di Sekolah SUkma Bangsa Lhokseumawe. Unilib Jurnal Perpustakaan, 13-20.

Labusari, E. (2018). Membangun Karakter Siswa Sekolah Dasar melalui Gerakan Literasi Sekolah. Seminar Nasional Pendidikan Dasar (pp. 25-32). Cirebon: Universitas Muhammadiyah Cirebon.

Rahayu, R. A. (2017). Gerakan Literasi Sekolah sebagai Upaya Penumbuhan Karakter Siswa sekolah Dasar. Transformasi Pendidikan Abad 21 (pp. 1060-1067). Malang: Universitas Negeri Malang.

Rukmana, S. K. (2019). Pembentukan Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui Program Literasi pada Pembelajaran Al-Qur'an Hadits di MTs Darul Hikmah Prasung Buduran Sidoarjo. Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya.

Vivi Indriyani, d. (2019). Literasi Baca Tulis dan Inovasi Kurikulum Bahasa. Kembara, 108-118.

Yunus Abidin, d. (2017). Pembelajaran Literasi. Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Kumpulan Soal Penilaian Akhir Semester Ganjil

Bapak/Ibu berikut kami sampaikan kumpulan soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 2020, bisa downl...